Monday, July 26, 2010

ANALISIS BIAYA USAHATANI CABAI

“ANALISA PERHITUNGAN INPUT PRODUKSI CABAI MERAH”

A. Tanaman Cabai Merah

Cabai merah (capsicum annuum spp.) merupakan salah satu jenis sayuran komersial yang sejak lama telah dibudidayakan di Indonesia, karena produk ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, cabai banyak digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan farmasi. Pemasaran cabai dapat dilakukan dalam bentuk segar, kering, bubuk sebagai bahan dasar industri maupun dalam bentuk pasta cabe.

Meskipun harga pasar cabai sering berfluktuasi cukup tajam, namun hal ini tidak menurunkan minat petani dan pengusaha untuk membudidayakannya. Sentra produksi cabai di Indonesia adalah pulau Jawa, dan mulai dikembangkan di daerah di luar pulau Jawa. Luas areal panen cabai pada tahun 1997 mencapai 161.602 Ha dengan produksi 801.832 ton. Data tahun 1992 menunjukkan bahwa ekspor cabai segar pada tahun tersebut hanya mencapai 90.320 kg, dengan tujuan ekspor ke negara Malaysia dan Singapura. Jumlah ini merupakan kontribusi yang sangat kecil jika dibandingkan dengan volume cabai yang diperdagangkan di pasaran internasional mencapai 30.000 - 40.000 ton per tahun (Santika, 1999). Negara-negara pengekspor cabai yang utama adalah India, Pakistan, Bangladesh, Cina, dan Singapura. Hal ini menunjukkan bahwa cabai mempunyai potensi pemasaran baik untuk tujuan domestik maupun tujuan ekspor.

Peluang ekspor cabai ini telah banyak dimanfaatkan antara lain oleh beberapa pengusaha di Sukabumi. Di wilayah ini komoditi cabai dibudidayakan dalam hamparan luas dengan tujuan pasar ekspor. Bisnis ini melibatkan banyak petani setempat di bawah manajemen yang profesional. Usaha ini terbukti dapat menjadi alternatif bagi pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani setempat di satu sisi dan masuknya modal/investasi dari daerah lain. Dalam skala makro bisnis ini juga menyumbang devisa yang cukup besar bagi negara dan pendapatan bagi pemerintah setempat, di samping terbukanya peluang kerja baru bagi masyarakat di daerah, menunjang pengembangan agribisnis serta melestarikan sumberdaya alam.

B. Analisa Perhitungan Input Produksi Komoditi Cabai (Intensif) missal luas lahan 1 hektar (populasi ± 2000 pohon)

1) Biaya tetap
- Sewa tanah 1 Ha x 2.000.000 = Rp.2.000.000,-
- Sewa traktor 5 hari x 50.000 = Rp. 250.000,-
- Drum untuk mencampur pestisida 2 bh @ Rp. 130.000,-:4 = Rp. 65.000,-
- Hand sprayer 5 buah @ Rp. 250.000 : 5 th : 4 tanam = Rp. 12.500,-
- Gembor untuk menyebor Rp. 38.000,- : 4 = Rp. 9.500,-
Jumlah = Rp. 2.087.000,-

2) Biaya variabel
a. Persiapan lahan
- Pengolahan tanah 400 HKP @ Rp. 20.000 : 2 = Rp. 4.000.000,
- Pupuk kandang 15 ton @ Rp. 250,-/kg = Rp. 3.750.000,-
- Dolomit 2 ton @ Rp. 150,-/kg = Rp. 300.000,-
- Mulsa plastik 15 rol @ Rp. 350.000,- : 2 = Rp. 2.652.000,-
- Pupuk anorganik :
a. Urea 200 kg @ Rp. 1.200,- = Rp. 240.000,-
b. SP-36 150 kg @ Rp. 1.700,- = Rp. 255.000,-
c. KCl 100 kg @ Rp. 2.000,- = Rp. 200.000,-
d. Pupuk ZA 7 kg @ 2.000 = Rp. 14.000.-
e. Pupuk NPK 4 kg @ 1800 = Rp. 7.200,-
f. Pupuk pelengkap cair 5 ltr @ 20.000 = Rp. 100.000
- Bambu untuk mulsa 20 bt @ Rp. 4.000,- = Rp. 80.000,-
Jumlah = Rp 11.598.200,-

b. Penanaman dan pemeliharaan
- Benih 60 pack @ Rp. 20.000,- = Rp. 1.200.000,-
- Pembuatan lubang tanam 5 HKP @ Rp. 20.000,- = Rp. 100.000,-
- Penanaman 8 HKW @ Rp. 15.000,- = Rp. 1.200.000,-
- Penyulaman 4 HKW @ Rp. 17.000,- = Rp. 68.000,-
- Ajir 20.000 bt @ Rp. 120,- : 3 = Rp. 800.000,-
- Tali rapia 10 rol @ 2500 = Rp. 25.000,-
- Pemasangan ajir 20 HKP @ Rp. 24.000,- = Rp. 480.000,-
- Pemasangan tali 3 x 10 HKW @ Rp. 15.000,- = Rp. 450.000,-
- Tenaga pemupukan susulan 3 x 10 HKW @ Rp. 18.000,- = Rp. 540.000,-
- Pupuk susulan :
a. Urea 225 kg @ Rp. 3.500,- = Rp. 787.500,-
b. KCl 50 kg @ Rp. 2.400,- = Rp. 120.000,-
c. KNO3 80 kg @ Rp. 28.000,- = Rp. 2.240.000,-
d. NPK Phonska 500 kg @ Rp. 1.500,- = Rp. 750.000,-
- Tenaga penyemprotan 10 x 5 HKP @ Rp. 20.000,- = Rp. 1.000.000,-
- Pestisida :
a. Matador zeon 250 ml = Rp. 60.000,-
b. Ridomil 450 gr @ Rp. 50.000,-/500 gr = Rp. 450.000,-
c. Agrimec 300 ml @ Rp. 100.000,-/100 ml = Rp. 300.000,-
d. Amistartop 250 ml @ Rp. 125.000,-/250 ml = Rp. 125.000,-
e. Curacron 10 lt @ Rp. 150.000,- = Rp. 1.500.000,-
f. Actara 400 gr @ Rp. 20.000,-/10 gr = Rp. 800.000,-
- Penyiangan 3 x 10 HKP @ Rp. 28.000,- = Rp. 840.000,-
- Pengairan 10 x 3 HKP @ Rp. 24.000,- = Rp. 720.000,-
Jumlah = Rp.14.555.500,-

c. Panen, penyortiran dan pengepakan :
• 200 HKW @ Rp. 18.000,- = Rp. 3.600.000,-
• 40 HKP @ Rp. 26.500,- = Rp. 1.060.000,-
Jumlah = Rp. 4.660.000,-

Grand Total Biaya (GTB) = Rp. 32.900.700,-


3) Keuntungan
2000 pohon x 1 kg/phn
= 2000 kg @ Rp. 25.000,- (harga cabai 3th lalu) = Rp. 50.000.000,-
Jadi keuntungan bersihnya yaitu = Rp. 500.000.000,- – Rp. 32.900.700,-
= Rp. 17.099.300,-

Ket. :
HKP = hari kerja pria
HKW = hari kerja


Referensi : www.google.com/lsi@ipb.ac.id
www.google.com/sentrainformasiiptek.net

3 comments:

Anonymous said...

saya masih ragu, sebenarnya tenaga kerja itu msuk biaya tetap atau biaya variabel sih???

Anonymous said...

1 HA POPULASINYA BISA LEBIH DRI 2000 POHON.

Anonymous said...

Analisa asal-salan

Post a Comment

Copyright © 2012 by : SAD_118- AGRIMANIAX.BLOGSPOT.COM
Template by : kendhin x-template.blogspot.com